IA TELAH BANGKIT DARI ANTAR ORANG MATI | YEREMIA 18:1-18 | Pdt MEIFIRA TANOR, M.Th
Sobat Obor, kalau kita mengingat kisah dalam film Kera Sakti, ada satu tokoh yang sering mengucapkan kalimat penuh makna, yaitu Biksu Tong. Ia pernah berkata, “kosong itu berisi, berisi itu kosong.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dalam. Dalam ilmu pengetahuan pun kita belajar bahwa sesuatu yang tampak kosong belum tentu benar-benar hampa. Gelas yang terlihat kosong ternyata tetap berisi udara dan partikel yang tak terlihat. Ruang angkasa yang tampak sunyi ternyata dipenuhi bintang, planet, dan galaksi yang tak terhitung jumlahnya.
Demikian pula dengan kisah Paskah. Dalam perikop ini kita diperhadapkan pada satu kenyataan: kubur yang kosong. Secara sederhana, kosong berarti tidak ada isi, tidak ada kehidupan, tidak berpenghuni. Namun kubur kosong dalam Injil bukanlah kehampaan tanpa makna. Justru dari kekosongan itulah lahir pengharapan yang baru.
Para perempuan datang ke kubur dengan hati yang remuk. Mereka mengasihi Yesus. Mereka mengikuti-Nya sampai ke Golgota. Mereka menyaksikan Ia disalibkan dan dikuburkan. Mereka tahu ajaran tentang kebangkitan pada akhir zaman. Mereka bahkan pernah mendengar Yesus berkata bahwa Ia akan bangkit pada hari ketiga. Tetapi rangkaian penderitaan dan kematian yang mereka saksikan membuat harapan itu seakan tenggelam. Kematian terasa begitu final. Dalam pengalaman manusia, kematian adalah sesuatu yang tidak dapat dibatalkan.
Setelah peristiwa Golgota, para murid menutup pintu rumah mereka. Bukan hanya pintu rumah yang terkunci, tetapi juga pintu hati mereka. Ketakutan, kecemasan, dan keputusasaan menguasai. Mereka merasa segalanya telah berakhir. Namun justru di tengah situasi itulah Kristus bangkit. Ia menang atas kuasa yang paling menakutkan, yaitu maut. Dengan kebangkitan-Nya, Ia juga meruntuhkan kuasa ketakutan, kegelisahan, dan keputusasaan. Ia membuka kembali masa depan yang sebelumnya terasa tertutup rapat.
Itulah inti berita Paskah. Kebangkitan Kristus memang tidak serta-merta mengubah kondisi dunia. Dunia tetap penuh tantangan, tetap keras, bahkan sering kali kejam. Tetapi kebangkitan mengubah manusia. Ia mengubah hati yang takut menjadi berani. Mengubah air mata menjadi sukacita. Mengubah keputusasaan menjadi keyakinan.
Ketika kita membaca kisah dalam Injil Matius tentang dua perempuan yang pertama kali menyaksikan kubur kosong, Maria Magdalena dan Maria yang lain memang layak bersukacita. Mereka setia berdiri di kaki salib. Mereka hadir ketika Yesus dikuburkan di tanah milik Yusuf dari Arimatea. Dan ketika hari masih gelap, sebelum fajar menyingsing, mereka datang dengan kasih yang tulus. Mereka mengasihi Yesus, baik saat Ia hidup maupun ketika Ia mati.
Secara khusus, Maria Magdalena memiliki pengalaman pribadi dengan Yesus. Ia pernah dipulihkan. Ia mengalami kasih yang membebaskan. Karena itu kasihnya kepada Yesus bukan sekadar emosi sesaat, melainkan ungkapan syukur yang dalam. Bukan kebetulan jika ia menjadi salah satu yang pertama berjumpa dengan Kristus yang bangkit. Ada prinsip rohani di sini: mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan mengalami perjumpaan dengan-Nya. Bukan karena jasa mereka, tetapi karena hati yang terbuka dan setia.
Paskah adalah berita kemenangan. Kemenangan atas maut. Kemenangan atas ketakutan. Yesus datang kepada murid-murid-Nya ketika mereka bersembunyi di balik pintu yang terkunci. Ia hadir membawa damai dan kepastian. Ia tidak menunggu mereka menjadi berani lebih dahulu. Ia sendiri yang mendatangi mereka.
Sobat obor, para perempuan itu tidak menyaksikan secara langsung bagaimana kebangkitan itu terjadi. Mereka tidak melihat detik-detik saat Yesus keluar dari kubur. Mereka hanya melihat tanda: batu yang terguling, kubur yang kosong. Mereka mendengar berita dari malaikat. Mereka diingatkan pada janji Tuhan. Dan itu cukup bagi mereka untuk percaya dan pergi memberitakan kabar sukacita.
Kubur yang kosong itu bukan lambang kehampaan. Ia adalah tanda bahwa Allah bekerja melampaui logika manusia. Dari kekosongan lahir kepenuhan. Dari kematian lahir kehidupan. Dari air mata lahir sukacita.
Kiranya Paskah meneguhkan iman kita. Membuat kita yakin dan berani memberitakan bahwa Kristus telah bangkit. Bukan karena kita melihat dengan mata kepala sendiri, tetapi karena kita percaya kepada Dia yang setia pada janji-Nya. Kristus telah bangkit. Ia hidup. Dan di dalam Dia, harapan kita tidak pernah kosong. Amin (MT)

