PERCAYA KEPADA DIA SEKALIPUN KAMU TIDAK MELIHAT-NYA | 1PETRUS1:3-12 | Pdt. Belly F. Pangemanan M.Th

Sobat Obor, dulu ada istilah “no pic = hoax”. Berarti harus ada bukti yang dilihat supaya bisa dipercaya. Di dalam keidupan beriman, terkadang manusia juga sangat bergantung pada tanda dan mujizat. Kalau tidak ada tanda atau mujizat, kita tidak akan percaya. Semua orang pasti excited mendengar kata mujizat. Mujizat adalah salah satu faktor pendorong dan penyemangat orang datang ke gereja. Mereka mencari Tuhan dengan harapan ingin mendapatkan mujizat. Namun di sisi lain ada juga orang-orang skeptis mendengar kata mujizat. Mereka menganggap mujizat adalah cerita masa lalu di zaman Alkitab. Benarkah demikian? Ketahuilah, mujizat sampai hari ini dan untuk selamanya tetap ada! Karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang tidak berubah. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8). Iman sejati bukanlah soal bukti, melainkan kepercayaan yang kokoh meski tidak melihat. “Apakah kita baru percaya kepada Tuhan bila doa kita dikabulkan, atau saat mengalami mujizat? Lalu bagaimana saat doa kita belum terkabul atau saat kita menghadapi badai dalam hidup?”

Bahaya putus asa bahkan melebihi luka fisik yang dapat disembuhkan oleh obat. Jiwa yang dilanda keputusasaan ibarat kapal yang karam di tengah samudra luas, terombang-ambing tanpa kompas. Dalam kegelapan tersebut, seseorang dapat kehilangan kesadaran akan nilai dirinya, makna hidup, bahkan kehilangan kepercayaan kepada Yang Maha Memberi Harapan. Jika kita mengerti keadaan penerima surat dari Petrus yang telah kita bacakan tadi. Bahwa surat ini ditujukan kepada orang-orang Kristen Yahudi yang tersebar, yang juga sedang mengalami begitu banyaknya penderitaan, penolakan, persekusi, ditindas, bahkan dianiaya. Petrus memuji iman jemaat kepada Kristus, sebab iman mereka tidak didasarkan pada penglihatan (1:8). Inilah yang mendorong Petrus bertindak melalui suratnya untuk meneguhkan dan menguatkan iman jemaat kepada Tuhan Yesus. Mereka tetap percaya dan mengasihi Tuhan, meskipun di tengah berbagai penderitaan dan cobaan yang dialami. Petrus mengatakan, sikap seperti ini hanya bisa dinyatakan oleh orang-orang yang telah mencapai tujuan imannya (ay.9). Rasul Petrus mendorong para penerima suratnya untuk tetap bersukacita walaupun mengalami penindasan dan penderitaan. Orang Kristen sepatutnya meletakkan pengharapan bukan pada dunia yang sementara, melainkan pada kekekalan. Orang yang telah dilahirkan kembali oleh karena kebangkitan Kristus akan mewarisi suatu bagian yang tidak dapat binasa atau hancur, tidak dapat tercemar atau terkotori, dan tidak dapat layu.

Iman yang dewasa adalah iman yang tidak tergantung pada situasi, melainkan bersumber dari kasih dan pengharapan kepada Tuhan yang hidup. Tuhan tidak selalu menunjukkan tanda-tanda luar biasa. Tetapi Ia hadir dalam keheningan, dalam kesetiaan harian, dalam kekuatan untuk bertahan, dan dalam damai yang tak selalu kasat mata, Kasus-kasus seperti orang yang meninggalkan Tuhan karena gagal ujian, ditinggal pasangan, kehilangan pekerjaan, atau menghadapi penyakit berat, sering menunjukkan bahwa iman kita terkadang lebih berdasarkan pada harapan akan mujizat, bukan pada pengenalan akan pribadi Tuhan itu sendiri. Renungan ini mengajak kita untuk bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tetap berjalan dalam iman, meski jalan hidup tidak selalu mulus, meski tanda-tanda kehadiran Tuhan tidak selalu tampak secara spektakuler.

Sobat obor, di era digital saat ini, di mana generasi muda terbiasa dengan hasil instan dan budaya bukti visual, renungan ini menjadi sangat relevan. Tuhan tidak selalu memberi “tanda viral” di hidup kita. Ia bekerja dalam ketekunan, kesetiaan, dan cinta yang sering tak terlihat oleh mata manusia. Kedewasaan iman tidak tergantung kepada tanda dan mukjizat semata. Iman menuntut adanya keterbukaan hati agar mampu melihat dan memaknai tanda yang diberikan Tuhan lewat peristiwa sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Setiap tarikan nafas kita adalah keajaiban dan tanda dari Tuhan. Masihkah kita kurang percaya dan tidak mensyukurinya? Tuhan telah menganugerahkan benih iman kepada kita semua. Mari tumbuh kembangkan iman agar kita mampu menyerahkan diri secara total kepadaNya dan membiarkan kehendak dan rencanaNya terjadi atas diri kita. Amin (BFP)