MENGASIHI DENGAN PERBUATAN DAN DALAM KEBENARAN | 1 YOHANES 3 : 11 – 18 | Pdt. Denny L Waljufry, S.Th
Sobat Obor, ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa “tangan yang membantu jauh lebih suci daripada bibir yang berdoa.” Tentu kita tidak sedang membandingkan mana yang lebih penting antara ibadah dan tindakan nyata, namun ungkapan ini menitipkan sebuah pesan tajam, bahwa kasih sering kali kehilangan maknanya saat ia hanya berhenti di perkataan. Di dunia yang serba digital ini, sangat mudah bagi kita untuk terlihat sebagai orang yang mengasihi hanya dengan membagikan kutipan ayat atau memberikan emoticon pelukan di kolom komentar teman yang sedang berduka. Namun, ketika layar ponsel itu mati, apakah tangan kita benar-benar terulur? Ataukah kita justru menjadi orang pertama yang menutup pintu saat sesama kita datang dengan beban yang nyata?
Memasuki minggu ini, kita diajak merenung melalui surat 1 Yohanes 3:11-18. Penulis surat ini tidak sedang menawarkan sebuah konsep teologi yang rumit, melainkan sebuah pengingat tentang perintah yang mula-mula. Kasih bukanlah sebuah tren yang datang dan pergi, melainkan pondasi dari iman kita. Menariknya, Yohanes memunculkan sosok Kain sebagai kontras yang sangat kelam. Mengapa Kain? Karena dalam diri Kain, kita melihat bagaimana kebencian bisa tumbuh subur justru di dalam sebuah relasi persaudaraan (jangan- jangan ada di antara kita yang tak akur dengan saudara sedarah kita?). Kain membunuh Habel bukan karena Habel bersalah padanya, melainkan karena perbuatan Kain sendiri jahat dan ia merasa terancam oleh kebenaran yang terpancar dari hidup saudaranya. Bukankah terkadang sifat Kain ini masih hidup di tengah-tengah kita? Saat kita merasa iri melihat teman sepelayanan lebih diberkati, atau saat kita lebih suka membicarakan kelemahan orang lain daripada menolongnya bangkit.
Standar kasih yang sejati diletakkan Yohanes pada ayat ke-16: “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya
untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara- saudara kita.” Kata “menyerahkan nyawa” di sini memiliki kedalaman yang sangat personal. Bagi kita pemuda GMIM, ini mungkin bukan tentang mati secara fisik di salib, melainkan tentang kesediaan untuk mematikan “ego” kita. Menyerahkan nyawa berarti menyerahkan waktu istirahat kita untuk menjemput teman yang membutuhkan tumpangan, menyerahkan sebagian dari keinginan kita untuk membeli barang mewah demi membantu biaya pelayanan, atau sesederhana menyerahkan rasa gengsi kita untuk meminta maaf lebih dulu. Kristus tidak mengasihi kita dari kejauhan; Ia turun, Ia menyentuh yang kusta, Ia memeluk yang terbuang, dan akhirnya Ia membiarkan diri-Nya dipaku untuk membuktikan kasih itu. Yohanes kemudian memberikan teguran yang sangat praktis di ayat 17. Ia bertanya, bagaimana mungkin kasih Allah diam di dalam diri seseorang yang melihat saudaranya menderita tetapi menutup pintu hatinya? Kata “menutup pintu hati” menggambarkan sebuah keputusan sadar untuk tidak peduli. Kita sering melihat penderitaan di sekitar kita namun kita sering kali memilih untuk buta dan tuli tiba- tiba.
Sobat obor, mengasihi dalam kebenaran berarti kasih kita memiliki tangan dan kaki. Kasih itu bekerja, kasih itu bergerak, dan kasih itu berani membayar harga. Jangan biarkan identitas kita sebagai Pemuda GMIM hanya dikenal karena seragam yang kita pakai atau lagu yang kita nyanyikan, tetapi biarlah dunia mengenal kita karena cara kita memperlakukan satu sama lain. Dunia tidak butuh lebih banyak pengkhotbah tentang kasih; dunia butuh lebih banyak “pelaku kasih”. Mari kita akhiri drama kata-kata yang manis di bibir dan mulailah menuliskan cerita kasih melalui tindakan nyata. Biarlah di minggu yang baru ini, setiap langkah kita mencerminkan Kristus yang telah lebih dulu menyerahkan segalanya bagi kita. Sebab pada akhirnya, di hadapan Tuhan terbuka terang benderang, bukan seberapa fasih kita bicara tentang kasih, melainkan seberapa tulus tangan kita telah bekerja untuk sesama. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin (DLW)

