DARI MAUT MENUJU HIDUP | 1 YOHANES 3:13 – 14

Sobat Obor, secara medis tanda kehidupan seseorang dapat dilihat dari detak jantung atau napasnya. Namun secara rohani, Rasul Yohanes memberikan parameter yang sangat radikal untuk mengukur kehidupan. Ia menegaskan bahwa tanda bahwa kita sudah pindah dari maut ke dalam hidup adalah karena kita mengasihi saudara kita. Kalimat ini membawa pesan mendalam: tanpa kasih, meskipun fisik kita terlihat bugar dan kita aktif dalam pelayanan, secara teologis kita sebenarnya sedang berada dalam maut. Memahami perpindahan dari maut ke dalam hidup berarti memahami sebuah transformasi status yang total. Maut bukan hanya tentang kematian fisik, melainkan keterpisahan dari Allah dan pengabdian pada diri sendiri (egoisme). Ketika kita percaya pada Kristus, kita dipindahkan ke dalam hidup, yang ditandai dengan detak jantung yang baru, yaitu kasih. Maka, jangan heran jika dunia membenci kita. Kebencian dunia adalah hal wajar karena adanya perbedaan “alam” kehidupan. Dunia yang dikuasai prinsip maut cenderung pada kompetisi yang menjatuhkan, sementara anak-anak Tuhan yang sudah “hidup” membawa prinsip pemulihan.

Sering kali kita merasa sudah aman dalam zona nyaman kerohanian kita, padahal tanpa sadar kita masih memelihara “bibit maut” berupa ketidakpedulian dan kepahitan. Yohanes menulis dengan sangat tajam bahwa barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. Kasih bukanlah pilihan tambahan dalam iman, melainkan bukti otentik bahwa kuasa kegelapan tidak lagi memerintah atas hidup kita. Hari ini kita dipanggil untuk memeriksa orientasi hidup kita. Apakah kehadiran kita di tengah pemuda GMIM menghadirkan kehidupan atau justru suasana “maut” melalui perpecahan? Jika kita mengaku telah mengenal Kristus, maka kasih harus menjadi bukti bahwa kita benar-benar telah berpindah dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib. Marilah melangkah sebagai pribadi yang benar-benar hidup. Amin (DLW)