KASIH YANG BERANI MEMBAYAR HARGA | 1 YOHANES 3:16-17

Sobat Obor, banyak orang mengira bahwa kasih adalah soal kata-kata manis di bibir. Namun, melalui ayat 16, kita diberikan definisi kasih yang paling tinggi itu. Kasih sejati bukan sekadar ucapan, melainkan sebuah pengorbanan yang berani membayar harga. Kristus tidak hanya berteori tentang kasih, Ia membuktikannya di atas kayu salib dengan memberikan hidup-Nya sendiri bagi kita. Sebagai pemuda, panggilan untuk menyerahkan nyawa bagi sesama mungkin tidak berarti kita harus mati secara fisik. (Jangankan memberi nyawa, meminjamkan uang saja sulit hehe!). Menyerahkan nyawa sering kali berarti menyerahkan ego dan gengsi kita. Mari kita jujur pada diri sendiri, betapa ironisnya jika kita terlihat sangat akrab dan penuh kasih di tengah pelayanan gereja, namun di rumah kita justru “nda baku bicara” atau “nda baku togor” dengan kakak atau adik kandung sendiri hanya karena persoalan sepele. Kita bisa sangat sabar dengan teman, tapi begitu keras hati dengan saudara sedarah. Membayar harga dalam kasih berarti berani menjadi yang pertama untuk menegur, meminta maaf, dan meruntuhkan tembok permusuhan di dalam rumah.

Yohanes memberikan contoh praktis pada ayat 17 tentang kerelaan berbagi. Bagaimana mungkin kasih Allah ada di dalam diri seseorang yang melihat saudaranya menderita tetapi ia justru menutup pintu hatinya rapat-rapat? Kasih tidak bisa hanya bersifat abstrak di awan-awan; ia harus mendarat di realitas hidup sehari-hari, dimulai dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Hari ini mari kita belajar untuk tidak menjadi pribadi yang keras hati. Kasih Kristus yang sudah kita terima seharusnya meluap keluar dalam bentuk kepedulian yang nyata. Jangan sampai kita menjadi pahlawan kasih di luar, tapi menjadi asing bagi saudara sendiri. Sebab kasih yang tidak berani membayar harga dengan menurunkan gengsi, pada dasarnya bukanlah kasih yang berasal dari Kristus. Amin (DLW)