MEMILIH JALAN YANG SUSAH | 1 KORINTUS 1:26-31
Sobat Obor, Paulus sadar tentang konsekuensi mengikut Yesus dengan setia. Dalam bagian bacaan kita hari ini, ia dengan jelas mengatakan bahwa injil itu, injil yang benar itu, injil tentang salib Kristus itu, adalah kebodohan bagi yang satu dan batu sandungan bagi yang lain. Ia sadar bahwa memberitakan Yesus yang disalibkan tidaklah mudah. Sulit diterima oleh orang yang berlatar belakang Yahudi dan Yunani. Akan lebih mudah memberitakan Yesus, Sang Tabib, atau Yesus, sang Raja dari pada memberitakan tentang Yesus yang tersalibkan. Secara sosial, mati disalib adalah hinaan. Secara religius, mati disalib adalah kutukan. Tapi mengapa Paulus tetap memilih jalan yang susah?
Sobat obor, kita malah salah kalau kemudian kita memberitakan injil yang disukai orang, injil yang sesuai dengan selera penerima. Mari kita ambil contoh ibadah. Ibadah bukan tentang apa yang kita inginkan. Bukan mengenai selera kita. Tapi ibadah berkaitan dengan apa yang semestinya kita lakukan sebagai seorang yang menghamba. Bukan ibadah yang kita laksanakan harus menyesuaikan dengan selera kita, bukankah selera kita belum tentu sama dengan selera orang lain. Mari kita bayangkan ratusan orang beribadah dan semua orang itu ingin beribadah sesuai dengan selera masing-masing. Kitalah yang menyesuaikan dengan ibadah yang dilaksanakan. Bukankah ibadah berasal dari bahasa ibrani “abodah” yang berarti menghamba kepada Allah. Hidup kita adalah ibadah. Sebuah kebaikan berubah menjadi kebaktian dan sepanjang pekan tiap hari menjadi hari ibadah. Apalagi hari minggu; minggu berasal dari bahasa portugal “Dominggo” atau “Dominggus”, artinya hari milik Tuhan.
Kembali pada bahasan diawal berkaitan dengan pemberitaan injil. Bukan tentang kita, bukan untuk memegahkan diri. Bukan supaya kita tidak susah, gampang. Bukan supaya kita dipuji, tapi untuk Tuhan. Tapi semuanya tentang Tuhan dan apa yang dikehendaki-Nya. Dunia melihat rupa dan latar belakang, tapi tidak dengan Tuhan Kita. ayat 26-31 memberikan gambaran tentang apa yang Allah lakukan seringkali berbeda dengan apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh dunia. Amin (FPK)

