STATUS ISTIMEWA | IBRANI 1 : 5

Sobat Obor, dalam tradisi Teologi Reformed, kita sangat menekankan bahwa Allah adalah inisiator tunggal dalam seluruh sejarah keselamatan manusia. Salah satu pengakuan iman kita yang paling fundamental adalah mengenai keilahian Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang kekal. Ayat 5 hari ini menjadi fondasi dogmatis yang sangat kokoh bagi iman kita. Penulis Ibrani secara eksplisit mengutip Mazmur 2:7 untuk menegaskan adanya perbedaan hakikat yang mendasar antara Yesus Kristus dan para malaikat. Malaikat, betapapun agung, perkasa, dan sucinya mereka, tetaplah berstatus sebagai makhluk ciptaan. Mereka adalah pelayan-pelayan surgawi yang tunduk menjalankan perintah Sang Pencipta. Namun, Yesus Kristus bukanlah ciptaan. Kita mengakui bahwa Dia adalah Sang Anak yang berasal dari hakikat yang sama dengan Bapa (homoousios). Ketika Allah berfirman, “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”, itu bukanlah sebuah penunjukan waktu kapan Yesus mulai ada, melainkan sebuah proklamasi kekal mengenai kedudukan, otoritas, dan relasi kasih yang tak terputus antara Allah Bapa dan Allah Anak.

Bagi kita Pemuda GMIM, memahami status Yesus sebagai Anak adalah kunci untuk memulihkan cara kita memandang nilai diri sendiri. Di dunia yang fana ini, kita sering kali dihargai hanya berdasarkan produktivitas atau apa yang bisa kita kerjakan, layaknya seorang hamba yang dinilai dari hasil kerjanya. Namun, karena kita telah dipersatukan dengan Kristus, kita tidak lagi menghadap Allah sebagai “majikan” yang kejam, melainkan sebagai “Abba, ya Bapa”. Kesadaran dogmatis ini seharusnya membebaskan kita dari mentalitas budak yang selalu diliputi ketakutan akan kegagalan. Kita melayani di gereja, belajar di kampus, dan bekerja di kantor bukan untuk mencari kasih Allah, melainkan karena kita telah menjadi anak-anak kesayangan-Nya melalui penebusan Kristus. Ingatlah, identitasmu sebagai anak tidak ditentukan oleh pencapaianmu, melainkan oleh status Kristus yang telah dibagikan kepadamu. Amin (DLW)