PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA | YOHANES 4 : 27 – 42 | Pdt. Denny L Waljufry, S.Th

Sobat Obor, kita pasti sering mendengar slogan pelayanan yang menggebu-gebu di mimbar: “Jadilah saksi Kristus yang sempurna, maka dunia akan percaya!” Seolah-olah, untuk membawa orang lain kepada Tuhan, kita harus memiliki hidup yang sudah selesai dengan segala masalah, tanpa cacat, dan penuh kesuksesan. Narasi seperti ini sering kali membuat kita, pemuda gereja, merasa minder. Kita merasa belum layak bersaksi karena merasa hidup kita masih berantakan, masih sering jatuh dalam dosa, atau merasa tidak punya latar belakang pendidikan teologi. Akibatnya, penginjilan hanya dianggap sebagai tugas orang-orang suci atau mereka yang hidupnya sudah lancar-lancar saja. Tetapi, apakah benar demikian cara Allah bekerja? Jika kita mau jujur dan melihat teks Yohanes ini, kita akan menemukan sebuah realitas yang sangat kontras. Lihatlah perempuan Samaria ini. Dalam pemahaman masyarakat waktu itu, ia adalah sosok yang paling tidak layak untuk menjadi penginjil. Ia memiliki masa lalu yang kelam, latar belakang etnis Samaria yang dimusuhi Yahudi, dan status sosial yang mungkin membuatnya dikucilkan. Namun, justru melalui kerentanan itulah Tuhan bekerja.

Kejutan dimulai ketika para murid kembali dari membeli makanan. Secara tata bahasa, kata thaumazo (terheran-heran) di ayat 27 menunjukkan sebuah ketegangan budaya yang luar biasa. Murid-murid terjebak pada pemikiran lama: “Mengapa Guru bicara dengan perempuan itu? Mengapa melanggar tradisi?” Di sini kita melihat tentang integritas seorang pelayan Tuhan. Yesus menunjukkan bahwa kehambaan-Nya tidak dibatasi oleh sekat-sekat manusiawi. Bagi Yesus, kepuasan sejati atau makanan-Nya bukan terletak pada pemuasan fisik, melainkan pada penyelesaian misi Allah. Inilah yang sering kali luput dari pelayanan kita saat ini. Kita terlalu sibuk mengurus makanan fisik atau fasilitas pelayanan, sampai lupa pada esensi misi itu sendiri. Sikap perempuan Samaria ini pun sangat menarik. Setelah mengalami perjumpaan pribadi, ia meninggalkan tempayannya. Tempayan di sini bukan sekadar alat pengambil air, tapi simbol keterikatan pada beban masa lalu. Ia berlari ke kota dan bersaksi. Menariknya, ia tidak memakai kata-kata yang bombastis atau manipulatif. Ia hanya berkata: “Mungkinkah Dia ini Kristus?” Sebuah ajakan yang jujur dan rendah hati.

Hasilnya luar biasa. Orang-orang Samaria di kota itu tidak hanya berhenti pada kesaksian si perempuan. Di sinilah letak poin penting bagi kita di minggu ini: pergeseran dari mendengar kata orang menjadi “mengalami sendiri”. Ayat 42 mencatat pengakuan mereka yang sangat kuat: “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dia benar-benar Juruselamat dunia.” Dalam bahasa Yunani, gelar Juruselamat Dunia adalah sebuah pernyataan politik dan teologis yang keras dan berbahaya, menantang kekuasaan Kaisar pada waktu itu.

Sobat obor, apa yang dialami oleh orang-orang Samaria ini adalah teguran bagi pola iman kita yang mungkin selama ini hanya bersifat iman warisan atau iman ikut-ikutan. Sering kali kita percaya hanya karena kata Pendeta, kata orang tua, atau karena tren di media sosial. Tapi ketika badai depresi atau kesulitan datang menghampiri seperti yang pernah dialami nabi Elia, iman yang “kata orang” itu akan mudah goyah. Kita butuh soliditas iman yang lahir dari perjumpaan pribadi dengan Yesus Sang Guru Agung. Pesan bagi kita di minggu ini: jangan pernah menjual identitasmu sebagai hamba Tuhan demi mengejar kemakmuran semu atau sekadar pengakuan manusia. Ingatlah bahwa ladang Tuhan sudah menguning dan siap dituai. Jangan tunggu dirimu sempurna untuk bergerak dalam penginjilan dan pendidikan. Jadilah hamba yang jujur akan kelemahanmu, namun tetap teguh dalam kesetiaan, karena Tuhan tidak diam; Dia melihat dan menyediakan kekuatan baru bagi setiap kita yang mau berakar di dalam-Nya. Selamat menjadi saksi yang membawa orang lain untuk berjumpa secara pribadi dengan Sang Juruselamat! Amin (DLW)