TAK PILIH KASIH | YOHANES 4 : 27
Sobat Obor, kita sering kali merasa nyaman melayani di lingkungan yang sefrekuensi saja. Kita cenderung memilih teman yang satu latar belakang, satu hobi, atau yang terlihat bae bae. Namun, jika kita mau jujur, sering kali rasa nyaman ini justru menjadi tembok yang menghalangi kita untuk membagikan kasih Tuhan kepada mereka yang dianggap berbeda. Dalam bacaan hari ini, kita melihat ketegangan itu muncul saat para murid terheran-heran melihat Yesus sedang berbicara dengan seorang perempuan Samaria. Mengapa mereka begitu terkejut? Hubungan orang Yahudi dan Samaria dipenuhi dengan kebencian selama berabad-abad. Konflik ini bermula sejak zaman pembuangan, di mana orang Samaria dianggap sebagai keturunan campuran yang tidak murni lagi, baik secara ras maupun teologis. Mereka mendirikan tempat ibadah sendiri di gunung Gerizim, yang bagi orang Yahudi adalah sebuah penyimpangan besar. Kebencian ini begitu mendalam sehingga orang Yahudi biasanya memilih memutar jalan lebih jauh daripada harus melewati wilayah Samaria. Interaksi sosial, apalagi seorang rabi berbicara dengan perempuan Samaria di tempat umum, adalah sebuah pelanggaran norma yang sangat serius pada waktu itu.
Namun, Yesus menunjukkan integritas-Nya sebagai Pelayan sejati dengan mendobrak sekat tersebut. Ia tidak peduli pada label musuh atau najis yang diberikan dunia. Bagi Yesus, keselamatan melampaui sejarah kelam dan batas etnis. Inilah esensi dari kehambaan yang mengucap syukur: sebuah keterbukaan untuk melihat setiap orang sebagai jiwa yang berharga di mata Tuhan, tanpa perlu pilih kasih. Sebagai pemuda, apakah kita masih memelihara “tembok Samaria” dalam pergaulan kita? Apakah kita hanya mau menyapa mereka yang terlihat suci dan menjauhi mereka yang dianggap bermasalah? Belajarlah dari Yesus yang berani melintasi batas. Ingatlah bahwa tugas penginjilan dimulai ketika kita berani meruntuhkan sekat di hati kita dan mulai melayani siapa saja yang Tuhan tempatkan di hadapan kita. Amin (DLW)

