JADI JEMBATAN BAGI SESAMA | YOHANES 4 : 39-41

Sobat Obor, pernahkah kita merenungkan kekuatan dari sebuah kesaksian yang jujur? Perempuan Samaria dalam bacaan kita tidak memakai istilah teologi yang rumit. Ia hanya menceritakan pengalaman pribadinya bertemu Yesus. Hasilnya luar biasa: banyak orang Samaria menjadi percaya karena perkataannya. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan kotanya yang terpinggirkan dengan Sang Juruselamat. Kesaksiannya bukan sekadar cerita, melainkan undangan bagi orang lain untuk ikut mengalami kasih Tuhan. Jika kita melihat sejarah penginjilan di tanah Minahasa, kita menemukan pola kehambaan yang serupa. Para penginjil seperti Riedel dan Schwarz bersedia meninggalkan kenyamanan tanah kelahiran mereka demi sebuah misi. Mereka tidak hanya datang untuk berteori, tapi memberikan seluruh hidup mereka bahkan banyak yang mati dan dikuburkan di tanah ini demi menjadi “jembatan” bagi orang Minahasa untuk mengenal Kristus. Kematian mereka adalah buah kesaksian yang nyata, yang membuat benih iman tumbuh subur di tanah ini sampai sekarang.

Dalam tema bulanan kita mengenai “Penginjilan dan Pendidikan dalam Kehambaan yang Mengucap Syukur,” kita diingatkan bahwa menjadi hamba berarti siap menjadi “jalan” bagi orang lain. Tanda percaya yang sejati terlihat dari kerinduan kita agar sesama juga merasakan keselamatan yang sama. Penginjilan dimulai dari langkah sederhana: berani menceritakan kebaikan Tuhan di tengah tantangan hidup kita. Sebagai Pemuda GMIM, apakah hidup kita sudah menjadi jembatan atau justru menjadi tembok bagi orang lain? Jangan biarkan pengorbanan para pendahulu kita menjadi sia-sia karena kita terlalu malas bersaksi. Gunakanlah setiap kesempatan untuk mendidik dan membagikan kasih Tuhan, agar semakin banyak orang bukan hanya mendengar tentang Yesus, tapi mau mengundang-Nya tinggal dalam hidup mereka. Buatlah komitmen untuk bersaksi dan melayani sejak masa mudamu ini, wahai pemuda! Amin (DLW)