BUKAN SEKADAR IKUT-IKUTAN | YOHANES 4 : 42

Sobat Obor, kita tiba di puncak cerita perjumpaan di sumur Yakub. Setelah mendengar kesaksian perempuan itu dan mengundang Yesus tinggal selama dua hari, orang-orang Samaria sampai pada sebuah kesimpulan yang luar biasa: “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dia benar-benar Juruselamat dunia.” Pernyataan ini menunjukkan sebuah transisi iman yang sangat krusial—dari iman yang “katanya” menjadi iman yang “tahu”. Ungkapan “kami sendiri telah mendengar” menandakan adanya pengalaman atau perjumpaan pribadi. Mereka tidak lagi bergantung pada kesaksian orang lain. Dalam dunia sekarang, kita sering terjebak pada iman warisan atau iman ikut-ikutan. Kita percaya karena kata orang tua, kata pendeta, atau karena lingkungan kita Kristen. Namun, iman yang hanya berdasarkan kata orang akan sangat mudah goyah saat kita diperhadapkan dengan tantangan berat atau krisis kehidupan.

Pengakuan mereka bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia juga memiliki dimensi teologis yang radikal. Mereka mengakui bahwa Yesus bukan hanya milik orang Yahudi, tapi milik semua bangsa, termasuk mereka yang selama ini dikucilkan. Ini adalah bukti nyata dari keberhasilan penginjilan yang dibarengi dengan pendidikan iman melalui perjumpaan langsung dengan Yesus. Sebagai Pemuda GMIM, apakah imanmu hari ini sudah sampai pada tahap “tahu” dan “mengalami sendiri”? Menjadi hamba yang mengucap syukur berarti memiliki keyakinan yang kokoh karena kita benar-benar mengenal siapa yang kita sembah. Jangan biarkan imanmu hanya menjadi pajangan identitas di KTP atau sekadar rutinitas organisasi. Carilah perjumpaan pribadi dengan Tuhan melalui doa dan pembacaan Firman setiap hari. Ketika kita sudah sampai pada tahap “kami tahu,” maka pelayanan kita tidak akan lagi digerakkan oleh paksaan, melainkan oleh rasa syukur karena kita telah menemukan Juruselamat yang sejati. Amin (DLW)