COVENANT OF PRESERVATION (PERJANJIAN ALLAH DENGAN NUH DAN SELURUH CIPTAAN) | KEJADIAN 9:8-11

Sobat Obor, di era perkembangan Iptek yang semakin luar biasa, sebagian manusia percaya bahwa teknologi dapat mengendalikan     masa    depan   memprediksi bencana, memperpanjang hidup, bahkan “menguasai” alam. Namun Kejadian 9:8–11 mengingatkan bahwa keberlangsungan dunia tidak ditopang oleh kecanggihan manusia, melainkan oleh perjanjian Allah yang setia memelihara ciptaan. Teknologi bisa membantu, tetapi tidak pernah menjadi dasar pengharapan. Satu-satunya dasar pengharapan sekaligus Pemelihara hidup kita yaitu Tuhan Allah.

Kejadian 9:8–11 menampilkan inisiatif Allah yang berdaulat dalam mengikat perjanjian dengan Nuh, keturunannya, dan seluruh makhluk hidup. Secara biblika, ini adalah perjanjian universal yang tidak bergantung pada respons manusia, melainkan pada komitmen Allah sendiri untuk tidak lagi memusnahkan bumi dengan air bah. Dalam kerangka teologi Reformed, perikop ini memperlihatkan covenant of preservation perjanjian pemeliharaan, di mana Allah berjanji menjaga keteraturan dunia agar sejarah tetap berlangsung. Herman Bavinck menegaskan bahwa pemeliharaan ini adalah bagian penggenapan rencana penebusan. Karena itu, perjanjian Nuh bersifat unilateral dan anugerah murni: Allah mengikat diri-Nya sendiri untuk menopang ciptaan, sekalipun manusia tetap berdosa. Covenant preservation ini menjadi dasar bagi segala aktivitas manusia, budaya, relasi, dan kehidupan karena dunia dijaga oleh kesetiaan Allah. Dengan demikian, orang percaya dipanggil hidup dalam syukur, tanggung jawab, dan keyakinan bahwa sejarah berada dalam tangan Allah yang setia memelihara ciptaan-Nya.

Sobat obor, renungan ini memberikan pesan firman yang sangat berharga bahwa Allah yang memelihara dunia juga setia memegang masa depan hidup kita. Karena itu, cita-cita tidak dibangun di atas ketidakpastian, tetapi di atas kesetiaan Allah. Orang percaya dipanggil untuk merencanakan, belajar, dan bekerja keras dengan sungguh-sungguh, namun tanpa cemas, sebab masa depan tidak ditentukan oleh kemampuan manusia semata, melainkan oleh pemeliharaan dan hikmat Allah. Ingatlah jika kita menjadi hebat, sesungguhnya bukan karena kehebatan kita tapi karena kehebatan Tuhan. Amin (SFM)