BEKERJA DENGAN HATI YANG UTUH | EFESUS 6 : 5-7

Sobat Obor, ada banyak anak muda hari ini yang bekerja baik  di kantor, di tempat usaha, bahkan dalam pelayanan. Namun sering muncul satu pergumulan yang diam-diam menggerogoti: bekerja dengan setengah hati. Ketika diawasi, kita serius. Ketika tidak terlihat, kita mulai longgar. Seolah-olah nilai kerja kita ditentukan oleh siapa yang melihat, bukan oleh siapa kita sebenarnya.

Dalam Efesus 6:5-6, Rasul Paulus berkata, “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan manusia, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah.” Memang pada masa itu, hubungan antara hamba dan tuan adalah realitas sosial yang keras. Namun Paulus tidak langsung merombak struktur itu, melainkan menanamkan prinsip yang jauh lebih dalam: cara seseorang bekerja mencerminkan relasinya dengan Kristus. Firman Tuhan hendak menyoroti secara tegas bahwa iman Kristen mengangkat martabat pekerjaan. Tugas yang paling sederhana pun menjadi mulia ketika dilakukan untuk Tuhan. Kata “tulus hati” menunjukkan integritas bahkan kesatuan antara apa yang terlihat dan apa yang tersembunyi. Ketika seseorang hanya rajin saat diawasi, sesungguhnya ia sedang kehilangan makna terdalam dari pekerjaannya. Sebaliknya, ketika ia bekerja dengan setia meski tidak diperhatikan, di situlah karakter dibentuk.

Sobat obor, firman ini sangat relevan bagi kita. Entah kita mahasiswa, pekerja, atau pelayan gereja, godaan untuk “sekadar cukup” selalu ada. Tetapi Tuhan memanggil kita untuk lebih dari itu. Kita dipanggil untuk bekerja dengan hati yang utuh, bukan demi pujian, tetapi sebagai bentuk ibadah. Pada akhirnya, pekerjaan bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang siapa yang kita layani melalui pekerjaan itu. Dan ketika Kristus menjadi pusatnya, maka bahkan hal kecil sekalipun menjadi persembahan yang berkenan di hadapan-Nya. Amin (MT)